Showing posts with label Naufal punya. Show all posts
Showing posts with label Naufal punya. Show all posts

Sunday, January 20, 2019

Alasan mengapa pengunjung memilih berwisata ke Petilasan Nyi Endang Geulis





Banyak tempat wisata yang lebih menarik daripada wisata seperti Petilasan Nyi Endang Geulis, tetapi Petilasan ini juga menyimpan hal-hal yang juga menarik untuk dikunjungi wisatawan dan pengunjung yang berziarah. Karena Petilasan Nyi Endang Geulis memiliki banyak sejarah dan juga ritual yang unik. Salahsatunya adalah balong dan sumur yang menyimpan banyak manfaat bagi pengunjung yang datang. Bagaimana bisa Petilasan yang lokasinya tersembunyi dikunjungi pengunjung, jumlah pengunjung tidaklah terlalu ramai tetapi setiap harnya pasti ada saja pengunjung yang datang untuk sekadar berziarah atau meminta sesuatu.

Maka dari itu mari kita ulas mengapa pengunjung memilih berwisata ke Petilasan Nyi Endang Geulis dan alasanya.

1.Menyimpan Banyak Sejarah

Petilasan Nyi Endang Geulis begitu banyak menyimpan banyak sejarah mulai dari pembangunan petilasan itu sendiri sampai dengan benda-benda pusaka dan silsilah dari Nyi Endang Geulis. Jika kita ulas sedikit sejarah dari peninggalan yang ada di petilasan ada berupa bangunan, kolam, dan sumur. Jika kita ulas dari silsilah maka Nyi Endang Geulis adalah anak dari Ki Gedeng Danuwarsih. Situs ini didirikan ketika Pangeran Walangsungsang/ Pangeran Cakrabuana membabat hutan bersama pengikutnya dan mendirikan sebuah petilasan untuk tempat singgah pada tahun 1442 Masehi.

2. Rileksasi dengan alam.

Sejarah mengungkapkan bahwa dahulu tempat yang dibangun Petilasan ini adalah sebuah hutan lebat yang rindang, in terbukti jika di lokasi petilasan tidak begitu panas karena banyak pohon mengelilingi. Salahsatu pohon yang banyak dijumpai adalah pohon bambu yang di hui monyet monyet yang berkeliaran. Ketika Kita masuk gerbang pun sudah disambut oleh pohon beringin yang rindang, para kawanan monyet juga hal yang menarik perhatian wisatawan karena ketika muncul merak bergerombol dan biasanya datang untuk meminta makanan. Para monyet ini dipercaya warga sekitar adalah sebagai jelmaan dan pengikut dari Pangeran Walangsungsang dan Nyi Mas Endang Geulis.

3.Tradisi Dan Kepercayaan.

Ada beberapa tradisi yang dipercaya akan membuat hidup menjadi lebih tentram dan berkah, yaitu mandi di balog. Banyak wisatawan yang mandi dib along agar mendapat kemudahan pada kehidupanya, Mengangkat batu juga dipercaya oleh kuncen bahwa barangsiapa pengunjung dapat mengangkat batu sebanyak tiga kali maka mereka yang bisa mengangkat akan mendapatkan karomah di hidupnya. Petilasan juga mempunyai tradisi menguras balong dan sumur saat acara besar seperti Maulid Nabi Muhammad SAW, dan biasanya banyak pengunjung yang datang ketika hari tersebut.

4. Berdiam diri di Petilasan

Ritual ini sudah banyak dilakukan orang dan banyak dari mereka yang merasa berhasil melakukan ritual ini, ritual ini mempunyai tujuan adalah untuk orang-orang yang memiliki keinginan besar. Mereka biasanya menetap diri di Petilasan sambil puasa dan membaca al-quran, seseorang yang dinyatakan keinginannya akan segera dikabulkan adalah ketika orang tersebut bermimpi bertemu dengan Nyi Endang Geulis dan memberikan pesan bahwa apa yang dia lakukan di Petilasan sudah cukup. JIka mimpi itu sudah terjadi, maka pengunjung yang melakukan ritual berdiam diri di Petilasan dibolehkan pulang.

Nah, Itulah beberapa alasan mengapa Pengunjung memilih Petilasan Nyi Endang Geulis untuk dijadikan tempat wisata religi.



Perjalanan Nyi Mas Endang Geulis Mendirikan Petilasan




Sudah lama sekali sejak didirikanya petilasan Nyi Mas Endang Geulis, Petilasan ini terletak tak jauh dari kota Cirebon, hanya saja akses jalan yang tidak begitu mudah. Anda harus melewati jalan yang smpit dan berbatu, petilasan Nyi Endang Geulis terletak di desa Kerandon, Kecamatan Talun, Kabupaten Cirebon. Petilasan Nyi Endang tidak begitu luas disbanding dengan 2 petilasan yang berdekatan yaitu Petilasan Cimandung dan Balong Biru. Suasana Petilasan Nyi Mas Endang Geulis cukup rindang, tepat setelah pintu masuk pohon beringin yang sangat besar menyambut, ada pula bangunan seperti saung yang dimana banyak orang menggunakan untuk bersantai. Jika di ibaratkan, petilasan petilasan yang berdekatan mempunyai arti tersendiri seperti Kramat Mbah Kuwu yang diibaratkan seperti Kantor, lalu Petilasan Cimandung yang diibaratkan sebagai tempat pusaka, dan Petilasan Nyi Mas Endang Geulis yang diibaratkan seperti rumah.

Petilasan Nyi Mas Endang Geulis tidak selalu ramai seperti Petilasan Cimandung, namun kebradaaan petilasan ini dibutuhkan karena diibaratkan seperti sosok seorang Istri yang ada dalam diri Nyi Mas Endang Geulis. Tenang, setia, dan mendampingi. Nyi Mas Endang Geulis sendiri merupakan anak dari Ki Gedeng Danuwarsih dari pertapaan Gunung Mara Api dan menikah dengan Pangeran Walangsungsang pada 1442 Masehi. Mereka singgah di lokasi ini setelah menikah, membabat hutan untuk mendirikan kampung, peninggalannya berupa kolam dan sumur yang masih ada sampai dengan sekarang. Meski tak seramai Petilasan Cimandung, ada saja setiap harinya tamu yang datang.

Petilasan ini juga mempunyai hal unik yaitu hewan yang biasa datang dan turun ke petilasan, yitu monyet. Monyet-monyet ini dipercayai masyarakat bahwa hewan ini adalah hewan karomah karena monyet ini merupakaan jelmaan dari para pengikut Nyi Endang Geulis di masa lampau, monyet ini turun dari bukit bambu dan bergerombol. Tidak jarang para monyet sering berkelahi merebutkan makanan yang diberi para pengunjug, monyet-monyet ini juga melindungi petilasan karena ketika diberi makanan yang dilempar pengunjung. Para monyet seringkali kembali ke bukit bambu, kuncen menceritakan bahwa monyet ini adalah salah satu pelindung petilasan yang ada di sini.

Sayangnya Petilasan Nyi Mas Endang Geulis belum diperhatikan oleh Pemerintah Kabupaten Cirebon untuk dijadikan Obyek wisata, meski disebut wisata religi. Kuncen yang menjanga Petilasan Nyi Endang Geulis hanya mengandalkan uang dari donatur untuk merawat Petilasan Nyi Mas Endang Geulis. Ketika mendirikan musala pun menggunakan uang dari donatur dan murni swadaya. Sebagai pengunjung yang bijak, baiknya kita menyisihkan uang kita untunk merawat dan menjaga Petilasan Nyi Mas Endang Geulis agar tetap terjaga dan terawat. Karena merawat sejarah bukan hanya tugas satu atau dua orang saja, melainkan tugas kita semua. Untuk itu, kita perlu menjaga dan membantu menjaga sejarah agar tidak hilang karena ulah kita sendiri.

Bukan hanya wisatawan local yang datang ke Petilasan Nyi Endang Geulis, Wisatawan Asing pun mengunjungi Petilasan untuk melihat sejarah dan juga mengikuti ritual yang dipercaya akan memudahkan kehidupan. Seperti halnya mandi di balong yang dipercaya akan mendatangkan kemudahan, para wisatawan diyakinkan oleh kuncen agar mengikuti apa yang harus dilakukan.


Saturday, January 19, 2019

Silsilah Keluarga Nyi Mas Endang Geulis sampai dengan menikahnya Dewi Pakungwati dan Raden Syekh Syarif Hidayatullah.


Sejarah adalah sesuatu yang benar terjadi di masa lampau dan terbukti secara fakta bahwa itu adalah benar. Salah satu sejarah yang kita simak sekarang adalah sejarah tentang silsilah keturunan dan asal-usul Nyi Mas Endang eulis. Petilasan Nyi Mas Endang Geulis terletak idesa Krandon, kecamatan Talun ,kabupaten Cirebon,Jawa Barat dan Berdiri pada 1442M. Silsilah Keluarga Nyi Mas Endang Geulis berawal dari Ki Gedeng Danusenta lalu Ki Gedeng Danusenta melahirkan dua orang anak yaitu Ki Danusela dan Ki Gedeng Danuwarsih, Ki Gedeng Danuwarsih Melahirkan seorang anak yaitu Nyi Mas Endang Ayu atau sekarang biasa disebut Nyi Mas Endang Geulis yang melakukan perkawinan dengan Pangeran Cakrabuana(Walangsungsang). Dari pernikahan Nyi Mas Endan Geulis dan Pangeran Cakrabuana mereka dikaruiani anak yang bernama Dewi Pakungwati dan dewi Pakungwati melakukan perkawinan dengan Sunan Gunung Jati atau Sunan Gunung Jati akan tetapi perkawinanya dengan Dewi Pakungwati tidak dikaruniai anak.

Raden Syarif Hidayatullah mewarisi kecendrungan spiritual dari kakek buyutnya Syekh Maulana Akbar sehingga ketika telah selesai belajar agama di pesantren Syekh Datuk Kahfi beliau meneruskan ke Timur Tengah. Tempat mana saja yang dikunjungi masih diperselisihkan, kecuali (mungkin) Mekah dan Madinah karena ke 2 tempat itu wajib dikunjungi sebagai bagian dari ibadah haji untuk umat Islam.

Babad Cirebon menyebutkan ketika Pangeran Cakrabuwana membangun kota Cirebon dan tidak mempunyai pewaris, maka sepulang dari Timur Tengah Raden Syarif Hidayatullah mengambil peranan mambangun kota Cirebon dan menjadi pemimpin perkampungan Muslim yang baru dibentuk itu setelah Uwaknya wafat.

Memasuki usia dewasa sekitar di antara tahun 1470-1480, beliau menikahi adik dari Bupati Banten ketika itu bernama Nyai Kawunganten. Dari pernikahan ini beliau mendapatkan seorang putri yaitu Ratu Wulung Ayu dan Maulana Hasanuddin yang kelak menjadi Sultan Banten I.

Masa Kesultanan Demak kurang banyak diteliti para sejarawan hingga tiba masa pendirian Kesultanan Demak tahun 1487 yang mana beliau memberikan andil karena sebagai anggota dari Dewan Muballigh yang sekarang kita kenal dengan nama Walisongo. Pada masa ini beliau berusia sekitar 37 tahun kurang lebih sama dengan usia Raden Patah yang baru diangkat menjadi Sultan Demak I bergelar Alam Akbar Al Fattah. Bila Syarif Hidayat keturunan Syekh Maulana Akbar Gujarat dari pihak ayah, maka Raden Patah adalah keturunan beliau juga tapi dari pihak ibu yang lahir di Campa.

Dengan diangkatnya Raden Patah sebagai Sultan di Pulau Jawa bukan hanya di Demak, maka Cirebon menjadi semacam Negara Bagian bawahan vassal state dari kesultanan Demak, terbukti dengan tidak adanya riwayat tentang pelantikan Syarif Hidayatullah secara resmi sebagai Sultan Cirebon.

Hal ini sesuai dengan strategi yang telah digariskan Sunan Ampel, Ulama yang paling di-tua-kan di Dewan Muballigh, bahwa agama Islam akan disebarkan di P. Jawa dengan Kesultanan Demak sebagai pelopornya.

Dengan segala jasanya umat Islam di Jawa Barat memanggil beliau dengan nama lengkap Syekh Maulana Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati Rahimahullah.






Monday, January 14, 2019

Petilasan Nyi Endang Geulis, Pembawa keberuntungan sekaligus berkah.


Petilasan Nyi Endang Geulis adalah tempat singgahnya Nyi Endang Geulis dan sang suami yaitu Pangeran Cakrabuana. Mereka tinggal di Desa Talun yang dahulu kala masih hutan belantara dan mendirikan kampung. Mereka Juga mendirikan tempat berwudhu untuk para pengikutnya, Nyi Endang dan Pangeran Cakrabuana sudah memiliki pengikut karena dakwahnya di berbagai tempat. Petilasan Nyi Endang Geulis Juga memiliki 2 sumur yang bernama sumur Jaya yang dipercaya dapat memberikan keberuntungan, ada juga sumur Kemuliaan yang dapat memberikan kemuliaan kepada pengunjung yang datang dan mengharapkan Syafaat dari Allah SWT.

Petilasan Nyi Endang Geulis dapat mendatangkan keberuntungan kepada kita dengan cara cara yang islami dan tidakn melanggar syariat islam, yaitu dengan cara berdiam diri di Petilasan Nyi Endang Geulis menurut kuncen, ibadah puasa juga bisa mendatangkan keberuntungan. Karena keberuntungan terjadi bukan hanya adanya kebetulan semata, keberuntungan juga bisa di dapatkan ketika kita berusaha semaksimal mungkin agar mendapatkan apa yang kita inginkan, keberuntungan juga tercipta dari istiqomahnya kita dalam beribadah kepada yang maha kuasa yaitu Allah SWT. Di setiap agama juga mengajarkan bahwa segala hal yang baik akan mendapatkan balasan yang baik pula, sama halnya dengan keberuntungan. Keberuntungan bukan terjadi karena hal-hal yang berada di luar logika saja, karena keberuntungan juga bisa kita dapatkan dengan cara yang baik dan tidak melanggar hal agama. Tanda bahwa kita sudah mendapatkan apa yang kita inginkan jika kita berdiam diri di Petilasan Nyi Endang Geulis adalah ketika tidur dan bermimpi didatangi oleh Nyi Endang bahwa ibadah kita sudah cukup dan diperbolehkan untuk pulang maka kita boleh pulang. Banyak pengunjung yang sudah mengalami hal ini, mulai dari pengunjug yang ingin mendapatkan rejeki, ingin apa yang dicita-citakan terwujud, dan masih banyak lagi.

Semua orang pasti suka diberi kesehatan, panjang umur, hidup indah dan berkecukupan. Hanya saja, hidup tak selalu apa yang kita inginkan. Ada orang yang mudah mencari dari sgi materi tetapi tidak berkah, hatinya selalu gundah, penyakit datang setiap saat. Karena itu, dalam islam kaum Muslim dianjurkan mencari keberkahan dalam hidup. Keberkahan sendiri memliki arti bertambahnya kebaikan-kebaikan dalam hidup. Kita juga bisa mencari keberkahan itu di Petilasan Nyi Endang Geulis dengan cara Takwa, Shalat, Sedekah, dan member maaf. Berikut adalah penjelasan dari cara cara untuk mendapatkan keberkahan.

Takwa, dalam pengertian takwa adalah istilah dalam Islam yang merujuk kepada kepercayaan akan adanya Allah, membenarkannya, dan takut akan Allah. Yang kita lakukan di Petilasan juga adalah salah satunya takwa agar kita senantiasa tidak melangar apa yang tidak diperbolehkan dalam ajaran dan melaksanakan apa yang boleh dilaksanakan.

Shalat, adalah manivestasi iman paling dasar yang akan membuat ketakwaan seorang akan terpelihara. Jika yang kita inginkan ingin cepat terwujud mka dirikanlah shalat, karena shalat adalah media komunikasi setiap hamba kepada Allah SWT.

Sedekah, secara teori di lapangan sedekah adalah mengurangi asset atau harta yang ada. Tapi, hakikatnya tidak seperti itu. Sedekah mengurangi nominal atau angka, tetapi menambah pada sisi lainya, yang berimbas pada penambahan pada nominal itu sendiri. Sedekah juga membukakan pintu pintu rejeki pada hamba hamba Allah taala.

Memberi Maaf, adalah hal yang paling sulit untuk sebagian orang yang memiliki ego yang tinggi. Tapi apakah sebagian orang tersebut tidak berfikir bahwa menjadi orang yang pendedam? Marilah kita bersama-sama menjadi orang yang mudah memaafkan orang lain karena Allah juga mempunyai sifat pemaaf, masa sih kita yang ciptaanya tidak. Situs Nyi Endang selain menyimpan banyak sejarah, juga menyimpan banyak manfaat untuk kita semua.